Tiada seri walau bergema
Sayatan perindu
Harap lalu menjelma
Kian meratap malam
Yang hantar temaram
Sang bunga hanya terbentang
Harap dekap siang
Malam terlalu kelam
Lirih menyuat kerinduan
Dendang buruan taman
Suasana sepi merasuk
Di dalam dinding kalbu
Namun kian kelam
Karena semua telah tertinggal
Tak ada suara maupun tawa
Penuh kesunyian
Yang hampa mencengkam jiwa
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Desember 2011
DALAM CIBIR PRASANGKA
Meski Kaki seakan tertusux duri
Karena harapan telah hilang dan mati
Namun kan ku coba untuk bangun
Dari mimpi buruk ini
Yang selalu menghantui
Takan prnh pudar atau pun menghilang
Kilau cahaya terang yang menyelimuti hati
Galih diri kian tegap pandang
Rangrang buana daki dunia
Perlambang manah sungguh menjulang harap
Walau terkadang meratap
Dalam cibir prasangka
Akan ku kunyah saja
Segala rasa yang ada
Agar bersemayam
Dalam setiap aliran darahku
Hingga kau ketahui
Saat kau teguk darahku
Dari cawan yang kau sediakan
Khusus untk menadah tetesnya
Dapatilah smua rasaku
Berbaur pada kantung nadi tubuhmu
Apakah rasa itu hambar
Ataukah manis
Ataukah juga pahit
Mungkin kau akan tahu
Jika kau menenggaknya
Meski Kaki seakan tertusux duri
Karena harapan tlah hilang dan mati
Namun kan ku coba tux bangun
dari mimpi burux ini
Yang selalu menghantui
Takan prnh pudar atau pun menghilang
Kilau cahaya terang yang menyelimuti hati
Galih diri kian tegap pandang
Rangrang buana daki dunia
Perlambang manah saestu menjulang harap
Walau terkadang meratap
Karena harapan telah hilang dan mati
Namun kan ku coba untuk bangun
Dari mimpi buruk ini
Yang selalu menghantui
Takan prnh pudar atau pun menghilang
Kilau cahaya terang yang menyelimuti hati
Galih diri kian tegap pandang
Rangrang buana daki dunia
Perlambang manah sungguh menjulang harap
Walau terkadang meratap
Dalam cibir prasangka
Akan ku kunyah saja
Segala rasa yang ada
Agar bersemayam
Dalam setiap aliran darahku
Hingga kau ketahui
Saat kau teguk darahku
Dari cawan yang kau sediakan
Khusus untk menadah tetesnya
Dapatilah smua rasaku
Berbaur pada kantung nadi tubuhmu
Apakah rasa itu hambar
Ataukah manis
Ataukah juga pahit
Mungkin kau akan tahu
Jika kau menenggaknya
Meski Kaki seakan tertusux duri
Karena harapan tlah hilang dan mati
Namun kan ku coba tux bangun
dari mimpi burux ini
Yang selalu menghantui
Takan prnh pudar atau pun menghilang
Kilau cahaya terang yang menyelimuti hati
Galih diri kian tegap pandang
Rangrang buana daki dunia
Perlambang manah saestu menjulang harap
Walau terkadang meratap
JELAJAH EMOSI
Penantiaku berujung ambigu
Menuai sangsi jelajah emosi
Menegur sapa pada sang petaka
Memerahkan telinga
Nanarkan netra
Berseteru dengan waktu
Yang smakin menyelam dalam
Hingga rungu inderaku terganggu
Sampaikan firasat tersirat melebur niat
Atau sebatas nikmat sesaat
Sekutuku hanyalah sekumpulan lontar dungu
Yang setia menunggu coretan pena resahku
Wahai bulan tetaplah tenggelam
Bahkan sinarmu tetap saja padam
Malampun tetap saja kelam
Bintang itu hanya kiasan malam
Hingga sang malam tetap saja temaram
Apa yang kau nanti malam
Bahhkan bulanpun enggan
Bintangpun terpejam
Hanya ada lolongan ajing malam
Yang setia menemani sang Malam
Menuai sangsi jelajah emosi
Menegur sapa pada sang petaka
Memerahkan telinga
Nanarkan netra
Berseteru dengan waktu
Yang smakin menyelam dalam
Hingga rungu inderaku terganggu
Sampaikan firasat tersirat melebur niat
Atau sebatas nikmat sesaat
Sekutuku hanyalah sekumpulan lontar dungu
Yang setia menunggu coretan pena resahku
Wahai bulan tetaplah tenggelam
Bahkan sinarmu tetap saja padam
Malampun tetap saja kelam
Bintang itu hanya kiasan malam
Hingga sang malam tetap saja temaram
Apa yang kau nanti malam
Bahhkan bulanpun enggan
Bintangpun terpejam
Hanya ada lolongan ajing malam
Yang setia menemani sang Malam
EMBUN PEMBASUH SUKMA
Bukanku tak rindu padamu
Dihangatnya rasa yg bertaut
Sungguh senandung lirihmu
Laksa bayu tiupkan hawa nan sejuk
Menelisik lembut kerelung Qalbu
Gemulai tarian lintang
Sukma alur berbias cahaya
Membuka mata hati
Merajuk sayu diantara bait-bait
Embun pembasuh sukma
Indah pandang terhampar
Menyibak kabut
Pada pekatnya dinding langit
Sematkan pelangi
Tuju puja sang pencipta.
Menguak jiwa kerinduan
Menyatu diri kurung laku
Sibak tabir nurani
Ramahmu mendekapku
pada geta tuju-Mu
Lantun kidoeng mu
Senandung lirih
Gembala rasa musafirmu
Pada dinding-dinding cahaya
Kepakan sayap keindahan
Tersemat santun memapah langkah
Dalam senyuman
yang selalu tersungging
biar kusemat bulir kesejukan
Dalam hatimu
Akan kulayarkan
Sauh hikayat
Tentang kerinduan
Direlung terindah
Pada rasa yang bertaut
Dihangatnya rasa yg bertaut
Sungguh senandung lirihmu
Laksa bayu tiupkan hawa nan sejuk
Menelisik lembut kerelung Qalbu
Gemulai tarian lintang
Sukma alur berbias cahaya
Membuka mata hati
Merajuk sayu diantara bait-bait
Embun pembasuh sukma
Indah pandang terhampar
Menyibak kabut
Pada pekatnya dinding langit
Sematkan pelangi
Tuju puja sang pencipta.
Menguak jiwa kerinduan
Menyatu diri kurung laku
Sibak tabir nurani
Ramahmu mendekapku
pada geta tuju-Mu
Lantun kidoeng mu
Senandung lirih
Gembala rasa musafirmu
Pada dinding-dinding cahaya
Kepakan sayap keindahan
Tersemat santun memapah langkah
Dalam senyuman
yang selalu tersungging
biar kusemat bulir kesejukan
Dalam hatimu
Akan kulayarkan
Sauh hikayat
Tentang kerinduan
Direlung terindah
Pada rasa yang bertaut
KARENA KU YAKIN
Jemari ini
Masih enggan tuk menari
Setelah rentang menggurat
Sepi dalam luka
Ada cemas yg terutas
Andai lidah kecap suara
Aku tetap mengikuti jejakmu
Saat poros bumi berputar
Karena kuyakin
Dalam keresahanku ini
Tetap menempatkanmu
pada langit hati yang sama
Ada tarian luka
Ada tarian bahagia
Ditengah rintik hujan malam ini
Yang menghiasi netra sayuku
Dibalik selimut teman sejatiku
Masih enggan tuk menari
Setelah rentang menggurat
Sepi dalam luka
Ada cemas yg terutas
Andai lidah kecap suara
Aku tetap mengikuti jejakmu
Saat poros bumi berputar
Karena kuyakin
Dalam keresahanku ini
Tetap menempatkanmu
pada langit hati yang sama
Ada tarian luka
Ada tarian bahagia
Ditengah rintik hujan malam ini
Yang menghiasi netra sayuku
Dibalik selimut teman sejatiku
SUASANA KIAN TEMARAM
Malam akan melumat senja
Jinggapun kan segera sirna
Tapi mendung tetap singgah
Dan kan membasahkan jiwa yang hampa
Akankah kau biarkan bulan
Ketakutan karena ancaman oleh hujan
Hingga suasana kian temaram
Hampa lumat nalarku
Hingga peka akan sunyi
Kala simpul rembulan berseri
Aku mencaci
Kiranya rembulan
Senantiasa puji aku yg telah luyu
Malamku-malamku dihiasi sinarnya
wlau kadang aku masih ingin
berpegang pada gelap
Yang akrab dengan kesepian
Kini rembulan tak lagi ramah
selalu termenung gelisah
Dicekam oleh ketakutan
Yang tiada berpangkal
Dan tiada berhujung
Jinggapun kan segera sirna
Tapi mendung tetap singgah
Dan kan membasahkan jiwa yang hampa
Akankah kau biarkan bulan
Ketakutan karena ancaman oleh hujan
Hingga suasana kian temaram
Hampa lumat nalarku
Hingga peka akan sunyi
Kala simpul rembulan berseri
Aku mencaci
Kiranya rembulan
Senantiasa puji aku yg telah luyu
Malamku-malamku dihiasi sinarnya
wlau kadang aku masih ingin
berpegang pada gelap
Yang akrab dengan kesepian
Kini rembulan tak lagi ramah
selalu termenung gelisah
Dicekam oleh ketakutan
Yang tiada berpangkal
Dan tiada berhujung
URATKU LUNGKRAH
Marilah kita bersulang
Ditarian malam
Ambilah cawanmu
Biarlah aku tuang air ibliz
Biarkan jiwaku terjungkal
Memutahkan semua onak dalam aral
Uratku lungkrah
Karena beban menghantam jiwa
Netra tak bisa memandang cahaya
Gelap yang ada dalam sanubari
Biarlah syahdunya alunan piano
Menjadi penenang malam
Simpony nada terindah memory lama
Walau hanya sebuah kenangan
Masih bisa aku khayal
Senangnya ku lewati
Masa masa bersamanya
Biar ku sematkan dalam hati
Untuk sebuah kenangan
Ditarian malam
Ambilah cawanmu
Biarlah aku tuang air ibliz
Biarkan jiwaku terjungkal
Memutahkan semua onak dalam aral
Uratku lungkrah
Karena beban menghantam jiwa
Netra tak bisa memandang cahaya
Gelap yang ada dalam sanubari
Biarlah syahdunya alunan piano
Menjadi penenang malam
Simpony nada terindah memory lama
Walau hanya sebuah kenangan
Masih bisa aku khayal
Senangnya ku lewati
Masa masa bersamanya
Biar ku sematkan dalam hati
Untuk sebuah kenangan
MENJAMU RASA DI KALA SENDU
Hening berlalu
Tiada jemu aku merindu
Disekat ruang waktu tiada menentu
Menjamu rasa dikala sendu
Wahai rembulan hatiku
Tetap terangmu sinari gelap nya hatiku
Malam ini tiada sastra tiada umpama
seluyu mengadu pada rindu tertiup sang bayu
Lantunan kidoeng
Kerap kita dendangkan
Bersama sebongkah gitar tua saksi cinta
Di malam-malam yang istimewa
Sentiasa gelak tawa hiasi beranda
Guyon khas para satria
Penyemat kinasih sastra
Bersila di depan kita
Guyon khas brata rama
Tetaplah mengalun indah
Di setiap jamuan
Di pertemuan para satria
Tiada jemu aku merindu
Disekat ruang waktu tiada menentu
Menjamu rasa dikala sendu
Wahai rembulan hatiku
Tetap terangmu sinari gelap nya hatiku
Malam ini tiada sastra tiada umpama
seluyu mengadu pada rindu tertiup sang bayu
Lantunan kidoeng
Kerap kita dendangkan
Bersama sebongkah gitar tua saksi cinta
Di malam-malam yang istimewa
Sentiasa gelak tawa hiasi beranda
Guyon khas para satria
Penyemat kinasih sastra
Bersila di depan kita
Guyon khas brata rama
Tetaplah mengalun indah
Di setiap jamuan
Di pertemuan para satria
GURAT AKSARAKU
Kata dirangkai
Bunga menghias bersatu
Rajut indah terpadu
Sanjungan hebat buatku melambung
Apa daya diri tak bersayap
Jatuh terkulai di lubang tanah
Sungguh sangkur memadu
Di racikan legam silam ku
Aku menyatu
Bersama sekutu waktu
Di hujatan cintaku
Di hinaan orang sekelilingku
Tiada jemu aku mengadu
Gurat aksaraku
Hasil waktu di pinang sendu
Diruangan hatiku
Tak ada indah dipadu
Hanya melara kucumbu
Manakala hinaan menyapaku
Hanya kidung kulantun sendu
Bunga menghias bersatu
Rajut indah terpadu
Sanjungan hebat buatku melambung
Apa daya diri tak bersayap
Jatuh terkulai di lubang tanah
Sungguh sangkur memadu
Di racikan legam silam ku
Aku menyatu
Bersama sekutu waktu
Di hujatan cintaku
Di hinaan orang sekelilingku
Tiada jemu aku mengadu
Gurat aksaraku
Hasil waktu di pinang sendu
Diruangan hatiku
Tak ada indah dipadu
Hanya melara kucumbu
Manakala hinaan menyapaku
Hanya kidung kulantun sendu
DAUN KERINDUAN
Bunga berputik
Mekar indah pada masanya
Harum ditangkai
Musnah kala terpetik
Hangat ramah surya menyapa
Tebar cinta di palung rasa
Bunga jiwa sentiasa bersahaja
Putik di petik sibunga melenggik
Lantas di belai sibunga terbuai
Toreh imaji daki ijati
Indah melambai daun kerinduan
Mengobarkan semangat hati yang terkulai
Rinduku tiada sekat jemuku
Mendayuh ayu laksa bayu
Menerjang karang
Laksa ombak laut biru
Tiada lapak sendu selain rindu
Tiada jemu aku senantiasa merayumu
Mekar indah pada masanya
Harum ditangkai
Musnah kala terpetik
Hangat ramah surya menyapa
Tebar cinta di palung rasa
Bunga jiwa sentiasa bersahaja
Putik di petik sibunga melenggik
Lantas di belai sibunga terbuai
Toreh imaji daki ijati
Indah melambai daun kerinduan
Mengobarkan semangat hati yang terkulai
Rinduku tiada sekat jemuku
Mendayuh ayu laksa bayu
Menerjang karang
Laksa ombak laut biru
Tiada lapak sendu selain rindu
Tiada jemu aku senantiasa merayumu
Minggu, 11 Desember 2011
ALUNAN RASA
Indah pagi
Menuai aksara
Bertitakan embun
Menggores rindu
Di semilir sang bayu kutitipkan
Tentang suara hati mengalun merdu
Kecup indah pagi ku untk dia
Sang indah butiran salju ku
Yang selalu temani aku
Di setiap hembusan nafas
Mengucap asma cinta
Terlantun dlam bait indah mewangi
Terpetik alunan rasa
Mengemit kerinduan asmaradana
Berjelaga di tiap detikan
Alunan nada pagi indah
untuk menyapa mu
Sang kekasih hati
Nun jauh di sana
Apa kabar-mu belahan jiwa
Di sini ku merindu senyum mu
Menuai aksara
Bertitakan embun
Menggores rindu
Di semilir sang bayu kutitipkan
Tentang suara hati mengalun merdu
Kecup indah pagi ku untk dia
Sang indah butiran salju ku
Yang selalu temani aku
Di setiap hembusan nafas
Mengucap asma cinta
Terlantun dlam bait indah mewangi
Terpetik alunan rasa
Mengemit kerinduan asmaradana
Berjelaga di tiap detikan
Alunan nada pagi indah
untuk menyapa mu
Sang kekasih hati
Nun jauh di sana
Apa kabar-mu belahan jiwa
Di sini ku merindu senyum mu
Jumat, 09 Desember 2011
RETAK TERURAI
Prasasti keabsahaan
Tercibir jenaka coretan senja
Layu kelopak bunga lusuh
Terbasuh alengka durja
Layang selayang tiada hiber
Kumelayang tegap kini
Tunduk ragu tandang keinginan
Senja kian menghilang
Karena gelap mendekap semesta
Junjung setia pecah
Retak terurai
Di natrat ikrar purnama silam
Lirih tiada lagi kudengar
Bahkan si manah jati
Gonggongan terabaikan
Tandu saja keranda
Di ujung tepian telaga saksi cinta
Ternyata nalarmu
Tidak seluas rasa sang pengelana
Tiada bisa kini terbungkam
Luapan lahar amarah
Telah gagahi singgasana kesantunan
Patahan aksaraku
Tiada akan pernah kau dapati
Walau sampai didengus nafas terakhir
Tercibir jenaka coretan senja
Layu kelopak bunga lusuh
Terbasuh alengka durja
Layang selayang tiada hiber
Kumelayang tegap kini
Tunduk ragu tandang keinginan
Senja kian menghilang
Karena gelap mendekap semesta
Junjung setia pecah
Retak terurai
Di natrat ikrar purnama silam
Lirih tiada lagi kudengar
Bahkan si manah jati
Gonggongan terabaikan
Tandu saja keranda
Di ujung tepian telaga saksi cinta
Ternyata nalarmu
Tidak seluas rasa sang pengelana
Tiada bisa kini terbungkam
Luapan lahar amarah
Telah gagahi singgasana kesantunan
Patahan aksaraku
Tiada akan pernah kau dapati
Walau sampai didengus nafas terakhir
BUKAN AKU MENCIBIR-MU
Pucat pasi itulah kamu
Diam terpejam di sudut jalan
Menyusuri laksaran waktu
Menanti jamah mesra bayu kembaran
Raga kau jual
Kau tumbalkan
Pada berhala siang
Lantas inikah perjuangan
Sedang ruh-ku diam
Tak bergeming
sambut pegang
Dalam pandang tiada genggam
Bukan aku mencibir mu
Itu realita nyata
Kala estetika menyapa
Nurani tertutup malu
Cibiran serta pandangan sinis
Kerap mendera padamu
Menikam ruang terdalammu
Melekat pada jati dirimu
Ini aku yang bertalu
Mengangkatmu dari aksara penuh pilu
Sedang hati-hati yg lain
Tetap saja lusuh menatapmu
Bukan pula iba kuhatur
Dari belantara rasa tersungkur
Kiranya ini tegur
Untuk jiwa yg kupur
Diam terpejam di sudut jalan
Menyusuri laksaran waktu
Menanti jamah mesra bayu kembaran
Raga kau jual
Kau tumbalkan
Pada berhala siang
Lantas inikah perjuangan
Sedang ruh-ku diam
Tak bergeming
sambut pegang
Dalam pandang tiada genggam
Bukan aku mencibir mu
Itu realita nyata
Kala estetika menyapa
Nurani tertutup malu
Cibiran serta pandangan sinis
Kerap mendera padamu
Menikam ruang terdalammu
Melekat pada jati dirimu
Ini aku yang bertalu
Mengangkatmu dari aksara penuh pilu
Sedang hati-hati yg lain
Tetap saja lusuh menatapmu
Bukan pula iba kuhatur
Dari belantara rasa tersungkur
Kiranya ini tegur
Untuk jiwa yg kupur
PASRAH DI ALTAR GELAP
Tarik pikir jengkal rasa
Tebas katup mayung layung durja
Seringai taring serigala
Gunyam gandewa memuja
Brata nista
Harap di nirwana
Tiada kilatmu memuja
Pasrah di altar gelap
Putih suci merajuk jawab
Tersudut di antara mereka
Para Kafilah kafilah kesejukan
Rebah daun daun melambai
Sebelum usia menguning
Resi penghuni pesanggrahan sunyi
Tebar asih saestu patwa sabda siloka
Termangu tiada tergeming
Walau taring kian runcing
Tabah dalam tembang kinanti
Pelukan gong getarkan bumi
Picu ujung tombak tajam
Kembali terhunus
Tiada henti ku alunkan
Kidung-kidoeng asmarandana
Tiada henti pula serimpi hati
Menggulai indah di pematang rasa
Tapi pupus ilang karena terhapus bejana
Kuperuncing mata hati kian runcing
Hinga bidik jiwa-jiwa durjana
Tapi kiranya bumi enggan sudi
Terpayung arakan awan kelam
Tebas katup mayung layung durja
Seringai taring serigala
Gunyam gandewa memuja
Brata nista
Harap di nirwana
Tiada kilatmu memuja
Pasrah di altar gelap
Putih suci merajuk jawab
Tersudut di antara mereka
Para Kafilah kafilah kesejukan
Rebah daun daun melambai
Sebelum usia menguning
Resi penghuni pesanggrahan sunyi
Tebar asih saestu patwa sabda siloka
Termangu tiada tergeming
Walau taring kian runcing
Tabah dalam tembang kinanti
Pelukan gong getarkan bumi
Picu ujung tombak tajam
Kembali terhunus
Tiada henti ku alunkan
Kidung-kidoeng asmarandana
Tiada henti pula serimpi hati
Menggulai indah di pematang rasa
Tapi pupus ilang karena terhapus bejana
Kuperuncing mata hati kian runcing
Hinga bidik jiwa-jiwa durjana
Tapi kiranya bumi enggan sudi
Terpayung arakan awan kelam
HUJAT-KU
Kubentang panah sulutan amarah
Di dakian puncak sangsangkala
Hujatku serupa aksara bermakna
Tiada sudi ku unggah nurani
Bila bening tercampur asing
Hujatku seindah aksara tiada terpeta
Diamkah bila aku mendurja
Kiranya langit kelam
Tiada pena rembulan
Meremang sudah bias cahaya
Menanti pada purnama saksi duka
Sanjung dipenghujung
Akhir ku tersandung
aku hilang puncak cahaya
kalamku tiada makna
bahkan aku habis aksara
hilang arah sapuan bayu sapa
tenggelam bersama siloka durjana
Di dakian puncak sangsangkala
Hujatku serupa aksara bermakna
Tiada sudi ku unggah nurani
Bila bening tercampur asing
Hujatku seindah aksara tiada terpeta
Diamkah bila aku mendurja
Kiranya langit kelam
Tiada pena rembulan
Meremang sudah bias cahaya
Menanti pada purnama saksi duka
Sanjung dipenghujung
Akhir ku tersandung
aku hilang puncak cahaya
kalamku tiada makna
bahkan aku habis aksara
hilang arah sapuan bayu sapa
tenggelam bersama siloka durjana
HUJAT-MU
Kulum mantra di eja sastra
Terpeta diri dirajuk buaian sihati
Lusuh tiada bertara
Hanya senada durja
Bungkam saja laramu
Ditepian telaga
Di saksi bisu purnama bendu
Ditepian altar-altar sunyi
Pucat pasi tiada jemu
Hujatmu pada aksaraku
Kerling setan kupapar
Engkau termakan
Terpeta diri dirajuk buaian sihati
Lusuh tiada bertara
Hanya senada durja
Bungkam saja laramu
Ditepian telaga
Di saksi bisu purnama bendu
Ditepian altar-altar sunyi
Pucat pasi tiada jemu
Hujatmu pada aksaraku
Kerling setan kupapar
Engkau termakan
IJINKAN DAKU MENGADU
Maha cinta
Telah ku urai bulir bulir permata
Di hamparan padang sapana
Ku semat kultus ini
Walau jiwa kerap menutup hati nurani
Diseperempat waktu
Dihening tiada bising
Ijinkan daku mengadu
Dari waktu yang kerap buntu
Dari rindu yang kerap terbelenggu
Dari harap dekapmu
Dari belaian cinta kasihmu
Mataku tiada jemu
Seakan liar pada pandang
Melirik setiap tamu
Sapa setiap yang menyapa
Kiranya ini dahagaku
Insan liar tanpa dinding rasa
Sendaia mengadu
Aku tak mau terbelenggu
Dari jiwa-jiwa sesat
Dari jiwa-jiwa pemberi nikmat
Telah ku urai bulir bulir permata
Di hamparan padang sapana
Ku semat kultus ini
Walau jiwa kerap menutup hati nurani
Diseperempat waktu
Dihening tiada bising
Ijinkan daku mengadu
Dari waktu yang kerap buntu
Dari rindu yang kerap terbelenggu
Dari harap dekapmu
Dari belaian cinta kasihmu
Mataku tiada jemu
Seakan liar pada pandang
Melirik setiap tamu
Sapa setiap yang menyapa
Kiranya ini dahagaku
Insan liar tanpa dinding rasa
Sendaia mengadu
Aku tak mau terbelenggu
Dari jiwa-jiwa sesat
Dari jiwa-jiwa pemberi nikmat
SINGGAHLAH DI UJUNG MIMPI
Sendu Merayu bagai membisik lirih
Di tengah senyap yang kian Sunyi
Menabur tulus resah
Nurani penuh Arti
Duhai belahan jiwa
Yang kibarkan Makna
Tiada warna paras Sanubari
Singgah lah di ujung mimpi
Ketika Aku tertelan Bumi
sertaku tak lagi bermimpi
Gambaran lukisan Mayamu
Kian menyentuh Hati
Sapamu pinang gemintang
Darma hati luapan rasa
Rungkah lisan kerap galider hati
Sang pengelana buana
Latifah disi semat suci
Tetes embun di buaran sunyi
Galih rengkuh lambaian hening
Ratap meratap harap di panca buana
Di tengah senyap yang kian Sunyi
Menabur tulus resah
Nurani penuh Arti
Duhai belahan jiwa
Yang kibarkan Makna
Tiada warna paras Sanubari
Singgah lah di ujung mimpi
Ketika Aku tertelan Bumi
sertaku tak lagi bermimpi
Gambaran lukisan Mayamu
Kian menyentuh Hati
Sapamu pinang gemintang
Darma hati luapan rasa
Rungkah lisan kerap galider hati
Sang pengelana buana
Latifah disi semat suci
Tetes embun di buaran sunyi
Galih rengkuh lambaian hening
Ratap meratap harap di panca buana
DI PUALAM BISU MERAYU
Diantara waktu ruang terlalu angkuh
Tertinggal doa pada sebuah asa
Malu akan ulah tingkah
Dapatkah ku tingkai menjadi bunga rasa
Menunggu pujaan yang kelam
Lama kian menawan
Bila resah tiada sudi berpulang
Tumpukan kidoeng cinta tanpa syarat mendulang
Sang juitapun terlalu manja
Malampun rebah tertidur
Dipualam bisu merayu
Kubangan waktu menguntai rindu
Rengkuh jiwa lerai rasa
Pudari di pualam sunyi
Meniti aku dalam buai irama
Menghunus jamah netra keindahan
Lepas sudah dendang asmara
Berganti duka munafikmu
Diantara ikrar yang terlafaz
Enyah bayang dalam pandang
Kuliti kelam cerita silam
Tertinggal doa pada sebuah asa
Malu akan ulah tingkah
Dapatkah ku tingkai menjadi bunga rasa
Menunggu pujaan yang kelam
Lama kian menawan
Bila resah tiada sudi berpulang
Tumpukan kidoeng cinta tanpa syarat mendulang
Sang juitapun terlalu manja
Malampun rebah tertidur
Dipualam bisu merayu
Kubangan waktu menguntai rindu
Rengkuh jiwa lerai rasa
Pudari di pualam sunyi
Meniti aku dalam buai irama
Menghunus jamah netra keindahan
Lepas sudah dendang asmara
Berganti duka munafikmu
Diantara ikrar yang terlafaz
Enyah bayang dalam pandang
Kuliti kelam cerita silam
DI RIMBUN LEMBAH
Kian melaut rasa itu
Arungi samudra rasa
Selami gundah gulana
Seakan rincik rasa di akhir senja
Semesta rindu tiada menjamu
Pedang aksara menjulang
Dirimbun lembah tiada beban
Sedang guyon para satria
Tiada aku hiraukan
Terserah pikirmu
Hadirku diantara sabda dewa
Walau jeramat itu tetap mencakar
cabiki ruatan silam
Arungi samudra rasa
Selami gundah gulana
Seakan rincik rasa di akhir senja
Semesta rindu tiada menjamu
Pedang aksara menjulang
Dirimbun lembah tiada beban
Sedang guyon para satria
Tiada aku hiraukan
Terserah pikirmu
Hadirku diantara sabda dewa
Walau jeramat itu tetap mencakar
cabiki ruatan silam
Langganan:
Postingan (Atom)